Renungan :
Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: “Apabila emas seberat gunung diamanahkan kepadaku, aku tidak akan tidur selagi ia tidak habis dimanfaatkan untuk umat Islam.”
Mari kembali ke Emas sebagai neraca yang adil.
Jumat, 30 Oktober 2009
Senin, 26 Oktober 2009
Dinar Untuk Perencanaan Haji : Lebih Murah, Lebih Nyaman…
Para Klien GeraiDinar Taiwan dan pembaca sekalian, tulisan berikut sepertinya menarik untuk para TKI (tentunya juga kita semua), yang sudah mulai berencana untuk naik haji dalam beberapa tahun ke depan, selamat membaca (GD Taiwan).
Dinar Untuk Perencanaan Haji : Lebih Murah, Lebih Nyaman…
oleh Muhaimin Iqbal (owner GeraiDinar)
Ibadah haji dari waktu ke waktu punya tantangannya sendiri, tidak mudah, berat dan mahal.Bila pada zaman kakek nenek dahulu tantangannya adalah transport yang bisa memakan waktu berbulan-bulan dan ketidak amanan dalam perjalanannya; saat ini transport banyak dan cepat – namun Anda belum tentu bisa melaksanakan ibadah haji pada waktu yang Anda rencanakan.
Kemudahan dan kecepatan transportasi haji ini ternyata menimbulkan masalah baru, yaitu membludaknya umat muslimin dunia yang (ingin) melaksanakan haji setiap tahunnya. Dampaknya bisa diduga, yaitu keterbatasan daya tampung jamaah haji di Mekah, Arafah, Mina dan juga Madinah.
Karena keterbatasan daya tampung inilah yang menjadikan setiap Negara di jatah (Quota) jumlah orang yang bisa pergi haji setiap tahunnya. Jadi kalu toh Anda berniat pergi haji sekarang, belum tentu Anda memperoleh kesempatan pada bulan haji yang akan datang - bisa jadi kesempatan Anda baru datang 3 – 5 tahun yang akan datang.
Karena kesempatan haji Anda yang mungkin masih beberapa tahun yang Akan datang ini, maka berapa dana yang akan Anda siapkan agar pada waktu kesempatan itu datang – dana Anda benar-benar cukup ? Inilah masalahnya.
Komponen biaya haji yang utama adalah mata uang asing yaitu US$ untuk tiket pesawatnya dan Saudi Riyal untuk biaya hidup selama di sana. Karena uang kita Rupiah, maka perencanaan ibadah haji menggunakan uang Rupiah mempunyai setidaknya dua ketidak pastian – yaitu faktor inflasi dan faktor nilai tukar.
Karena dua faktor inilah maka biaya ibadah haji kita dalam Rupiah memiliki kecenderungan meningkat dari tahun ketahun. Apalagi pada tahun dimana Rupiah mengalamai penurunan nilai yang tajam terhadap US Dollar dan Riyal seperti tahun ini, kenaikan biaya haji dalam Rupiah bisa sangat significant.
Namun Anda tidak perlu kawatir sekarang; berdasarkan statistik 10 tahun terakhir, biaya haji dalam Dinar ternyata terus menerus mengalami penurunan. Bila ONH biasa tahun 2000 sekitar 70 Dinar, maka tahun ini hanya sekitar 21 Dinar saja atau mengalami penurunan rata-rata 12% per tahun.
Apabila trend ini terus berlanjut, Anda bisa pergi haji hanya dengan 10 Dinar saja pada tahun 2015 – atau ONH plus hanya dengan sekitar 20 Dinar saja.
Jadi dengan Dinar - mata uang emas yang daya belinya tidak pernah rusak oleh inflasi maupun faktor nilai tukar, perencanaan haji Anda menjadi jauh lebih aman.Ambil contoh misalnya kalau Anda mau mulai serius merencakan haji Anda dalam rentang 5 tahun yang akan datang, maka relatif aman bila untuk ONH biasa Anda cadangkan 20 Dinar saja. Artinya kalau Anda tabung 1 Dinar per bulan saja, insyaallah nggak sampai 2 tahun dana untuk membayar ONH sudah akan cukup.
Sangat bisa jadi 20 Dinar yang Anda kumpulkan tersebut pada waktunya lebih dari cukup untuk membayar ONH biasa – bila kesempatan datang 3 – 6 tahun yang akan datang. Dalam hal ini Anda bisa meng-upgrade ONH Anda menjadi ONH plus.
Jadi bila Anda rencanakan ibadah haji Anda dengan Dinar; selain kecukupan dana lebih terjamin, juga sangat berpeluang Anda dapat meng-upgrade perjalanan haji Anda dengan yang lebih nyaman ONH plus.
Insyaallah kami daeri GeraiDinar.Com akan mulai bicara intensif dengan para penyelenggara perjalanan haji ini – khususnya ONH plus, untuk mulai menawarkan kerjasama perencanaan haji dengan berbasis Dinar.
Mudah-mudahan Allah memudahkan rencana ini.
Mudah-mudahan Allah memudahkan rencana ini.
Rabu, 02 September 2009
Dinar (Koin Emas) 'perlu' hadir, di Taiwan

Taiwan atau dikenal dengan sebutan negeri formosa, merupakan salah satu daerah tujuan utama bagi puluhan ribu bahkan seratusan ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dalam beberapa tahun terakhir ini. Data terbaru menurut senior asisten TKI di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia – KDEI Taipei, mengatakan bahwa jumlah TKI per Juni 2009 sekitar 134 ribu jiwa. Mayoritas atau sekitar 86,3% merupakan wanita, Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang umumnya bekerja di sector non-formal, seperti; Pembantu Rumah Tangga (PRT), perawat orang sakit, tenaga restaurant, dsb. Sisanya, mayoritas pria bekerja sebagai buruh pabrik, buruh bangunan dan konstruksi.
Banyak sekali permasalahan yang dihadapi TKI di Taiwan, mulai dari masalah selama proses pemberangkatan (biaya penempatan kerja yang sangat tinggi, dll), masalah selama kontrak kerja (kerja tidak sesuai kontrak, gaji tidak sesuai, tidak ada lembur, lembur tidak digaji, dll), bahkan sampai pada masalah pasca kontrak kerja, seperti perlakuan kurang manusiawi yang dialami “pahlawan devisa” ini di saat kepulangan, baik sesampai di bandara, pun dalam perjalanan menuju kampung halaman di tanah air.
Niat baik TKI bekerja di Taiwan untuk dapat memperbaiki perekonomian keluarga haruslah menjadi perhatian kita semua, terutama pemerintah dengan instansi terkaitnya, maupun masyarakat yang peduli akan nasib pahlawan devisa ini. Sejauh ini belum banyak TKI di Taiwan yang terbilang sukses dalam merencanakan masa depannya, setelah kontrak kerja berakhir. Masih banyak yang kembali ke tanah air tanpa membawa tabungan yang cukup berarti untuk berwirausaha kecil-kecilan saja misalnya, disamping memang ilmu dan keberanian berwirausaha yang masih kurang, sehingga banyak yang nekat kembali lagi bekerja di Taiwan untuk kontrak kerja berikutnya.
Kebiasaan baik TKI di Taiwan selama ini salah satunya dengan rutin mengirimkan sebagian gaji mereka ke keluarga di kampung halaman melalui jasa-jasa pengiriman uang yang banyak tersedia di seantero Taiwan. Ada juga yang menabung sendiri, walaupun kesadaran menabung ini masih cukup rendah, salah satu penyebabnya boleh jadi karena TKI belum familiar dengan bank-bank di Taiwan ini, selain itu umumnya suku bunga bank di Taiwan cukup rendah (namun tidak ada biaya administrasi), dibandingkan dengan suku bunga bank-bank di Indonesia.
Untuk menyediakan alternatif terbaik bagi TKI dalam menabung (merencanakan masa depan berbasis dinar), maka kami GERAI DINAR TAIWAN hadir di Taipei, ibukota Taiwan yang juga terkenal dengan gedung tertingginya di dunia, Taipei 101, di kota inilah mayoritas TKI/TKW bekerja sebagai PRT.
Banyak sekali permasalahan yang dihadapi TKI di Taiwan, mulai dari masalah selama proses pemberangkatan (biaya penempatan kerja yang sangat tinggi, dll), masalah selama kontrak kerja (kerja tidak sesuai kontrak, gaji tidak sesuai, tidak ada lembur, lembur tidak digaji, dll), bahkan sampai pada masalah pasca kontrak kerja, seperti perlakuan kurang manusiawi yang dialami “pahlawan devisa” ini di saat kepulangan, baik sesampai di bandara, pun dalam perjalanan menuju kampung halaman di tanah air.
Niat baik TKI bekerja di Taiwan untuk dapat memperbaiki perekonomian keluarga haruslah menjadi perhatian kita semua, terutama pemerintah dengan instansi terkaitnya, maupun masyarakat yang peduli akan nasib pahlawan devisa ini. Sejauh ini belum banyak TKI di Taiwan yang terbilang sukses dalam merencanakan masa depannya, setelah kontrak kerja berakhir. Masih banyak yang kembali ke tanah air tanpa membawa tabungan yang cukup berarti untuk berwirausaha kecil-kecilan saja misalnya, disamping memang ilmu dan keberanian berwirausaha yang masih kurang, sehingga banyak yang nekat kembali lagi bekerja di Taiwan untuk kontrak kerja berikutnya.
Kebiasaan baik TKI di Taiwan selama ini salah satunya dengan rutin mengirimkan sebagian gaji mereka ke keluarga di kampung halaman melalui jasa-jasa pengiriman uang yang banyak tersedia di seantero Taiwan. Ada juga yang menabung sendiri, walaupun kesadaran menabung ini masih cukup rendah, salah satu penyebabnya boleh jadi karena TKI belum familiar dengan bank-bank di Taiwan ini, selain itu umumnya suku bunga bank di Taiwan cukup rendah (namun tidak ada biaya administrasi), dibandingkan dengan suku bunga bank-bank di Indonesia.
Untuk menyediakan alternatif terbaik bagi TKI dalam menabung (merencanakan masa depan berbasis dinar), maka kami GERAI DINAR TAIWAN hadir di Taipei, ibukota Taiwan yang juga terkenal dengan gedung tertingginya di dunia, Taipei 101, di kota inilah mayoritas TKI/TKW bekerja sebagai PRT.

Semoga komunitas dinar di Taiwan dapat tumbuh dan berkembang sehingga menjadi "Pilihan terbaik, khususnya bagi TKI di Taiwan dalam perencanaan masa depan berbasis dinar".
Langganan:
Postingan (Atom)
